Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Februari 2013

10 Penyakit Paling Mematikan di Dunia
   
1. Anthrax
Sebelum tahun 2001 anthrax disebarkan oleh hewan. Namun ketika seseorang tak dikenal menggunakan Anthrax sebagai senjata perang. Akhir tahun 2001 dan awal 2002, seseorang mengirimkan surat yang berisi serbuk putih yang ternyata adalah sepura anthrax yang jika tersentuh akan membuat kulit melepuh. Orang yang menghisap bubuk sepura anthrax akan batuk dan dadanya terasa sakit.
Penyakit antraks ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang bernama Bacillus anthracis. Bakteri ini biasa di hidup di tanah. Bacillus anthracis ini berbentuk menyerupai spora untuk mempertahankan hidupnya di kondisi yang sangat ekstrem. Spora ini kemudian hidup dan tumbuh subur dengan cara berkoloni di dalam tubuh binatang atau manusia yang terinfeksi bakteri ini.
Penyakit antraks ini biasany menyerang hewan ternak yang jauh dari pemukiman manusia. Namun seperti yang sudah diketahui oleh kita bahwa pada tahun 2001 penyakit ini kemudian menyerang sebagian wilayah Amerika Serikat. Antraks kemudian banyak digunakan sebagai sejata biologi modern yang bisa mematkan para penderita yang terinfeksi oleh bakteri ini. Penularan penyakit antraks pada manusia biasanya melalui penularan lewat daging atau kulit binatang yang kemudian dikonsumsi oleh manusia.
 
2. Kanker
Kanker adalah penyakit yang paling terkenal dan mematikan. Kanker adalah penyakit sel tubuh. Sel kanker tumbuh dengan cepat. Tidak semua tumor menjadi kanker, namun ada baiknya orang yang memiliki tumor langsung memeriksakan dirinya ke dokter ahli.
Pada dasarnya penyakit kanker ini merupakan penyakit yang terdiri dari kumpulan lebih dari 100 macam penyakit yang ada dalam tubuh manusia. Oelh karena itu, penyakit kanker ini merupakan penyakit yang bukan disebut dengan penyakit tunggal saja. Hal ini dikarenakan kanker ini merupakan suatu penyakit yang disusun oleh tubuh yang kemudian membentuk banyak sel. Hal ini kemudian menyebabkan manusia dapat membentuk sel kanker sebanyak jumlah sel yang ada pada manusia tersebut.
Penyakit kanker ini biasany terjadi dengan melalui beberapa tahap yang memerlukan waktu yang cukup lama. Faktor – faktor yang bisa menjadi penyebabkan sel kanker tumbuh pada tubuh manusia diantaranya faktor lingkungan, kimia, fisika, radiasi, ionisasi, serta virus. Selain faktor – faktor tersebut, faktor lain seperti misalnya kondisi dalam tubuh manusia juga dapat menjadi penyebab terjadinya sel kanker tumbuh. Misalnya saja terganggunya sistem imun dalam tubuh manusia tersebut.
 
3. Wabah Pes
 
Di Eropa tahun 1300an terjadi wabah pes yang disebabkan gigitan kutu tikus. Gigitan tersebut mengandung bakteri yang menyebar ke aliran darah, menyebabkan pembengkakan sebesar jeruk di leher, ketiak dan pangkal paha. Daerah yang bengkak tersebut kadang pecah, mengeluarkan darah dan nanah. Sekarang ini dokter dapat memberikan antibiotic untuk menyembuhkan pes.
Penyakit yang biasa disebut dengan wabah pes ini disebabkan oleh bakteri Pasteurella pestis. Dari sinilah kemudian penyakit ini disebut dengan wabah pes. Penyakit pes ini merupakan infeksi yang ditimbulkan dari hewan pengerat liar  seperti tikus dan lain sebagainya yang saling tular menular bakteri tersebut.
Pada manusia wabah pes ini dimulai dengan penularan bakteri Pasteurella pestis ke dalam darah tikus yang kemudian darah yang sudah terinfeksi bakteri inipun dihisap oleh kutu. Kemudian kutu tersebut hinggap pada rambut manusia yang kemudian menular pada tubuh manusia. Wabah ini pernah terjadi berabad – abad hingga menyebabkan kematian pada penderitanya yang berjumlah banyak.
 
4. Cacar
Dulu, cacar merupakan penyakit yang paling dibenci sekaligus pembunuh jutaan orang di dunia. Dimulai dengan panas tinggi dan tubuh merasa sakit. Beberapa hari kemudian, bintik merah muncul di mulut penderita lalu menyebar ke seluruh tubuh. Bintik merah yang berisi air tersebut terasa sangat sakit. Tahun 1967, dimulai program vaksin cacar dan tahun 1980, cacar dianggap sudah tak ada lagi.
Penyakit cacar mungkin menjadi salah satu penyakit yang masih banyak ditemui di Indonesia atau negara – negara lainnya. Oleh karena itu Pemerintah membeikan perhatian yang cukup intens dalam penebaran penyakit cacar ini. Pada dasarnya penyakit cacar air ini atau bisa juga disebut dengan chicken pox merupakan penyakit yang disebabkan oleh terinfeksinya tubuh oleh virus yang bernama varicella zoster. Penyakit ini tidak hanya menyerang di negara Indonesia saja, penykit ini juga menyebar ke negara – negar lain seperti Australia dan sebaginya.
Seperti penyakit yang sdisebabkan oleh infeksi lainnya, penyakit cacar ini bisa menular pada oranglain. Penularan ini bisa melalui ludah atau cairan yang biasanya terdapat dalam bintik – bintik cacar yang sering nampak pada penderita cacar ini. Penularan ini bisa terjadi ketika dimulainya infeksin ini masuk ke dalam tubuh, pada masa inkubasi atau pada masa penyakit ini berlangsung hingga pada tahap penyembuhan pada penderita.
 
5. Virus Ebola
 
Virus yang sangat berbahaya ini muncul di pedalaman Afrika dan menular melalui hewan. Penderitanya mengalami pendarahan di dalam dan diluar tubuh; dari ginjal dan hati juga melalui mulut, hidung dan mata. Darah penderita Ebola juga berbahaya karena dapat menularkan penyakit tersebut meskipun setelah penderitanya meninggal. Itulah kenapa dokter dan perawat harus menggunakan masker, sarung tangan dan pakaian pelindung.
 
6. Influenza
 
Mungkin karena seringnya flu menyerang, orang tak menganggap flu ini berbahaya. Ternyata flu menempati tempat ke 5 paling berbahaya. Flu terutama fatal bagi penderita asma, diabetes dan jantung. Flu yang parah dapat menyebabkan radang paru-paru. Tahun 1918 sekitar 20 juta orang meninggal karena flu di Amerika.
Untuk kita yang hidupndi iklim tropis seperti Indnesia ini mungkin tidak asing lagi dengan penyakit yang satu ini. Penyakit flu atau influenza ini termasuk jenis penyakit yang sering menyerang masyarakat di musim dingin atau sedang pergantian musim. Di Indonesia sendiri penyakit ini sering kita temui pada musim pancaroba seperti saat ini.
Sehingga dapat dikatakan juga penyakit flu ini merupakan penyakit musiman untuk wilayah Indonesia. Influenza atau sering kita kenal dengan flu ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh terinfeksinya saluran pernafasan manusia yang tidak kenal umur, jenis kelamin dan lain sebaginya. Pada umunya penyakit flu ini bisa sembuh dengan sendirinya dengan rentan waktu 2 hingga 4 hari. Namun ada juga penyakit influenza yang bisa menyebabkan kematian bagi manusia.
 
7. Kolera
 
Penyebab kolera adalah mengkonsumsi air yang kotor. Penderita kolera kehilangan cairan tubuh melalui diare dan muntah-muntah yang bisa diatasi
 
8. Malaria
 
Di Afrika dan sebagian Amerika Selatan, nyamuk adalah hewan pembunuh karena mereka membawa penyakit malaria. Ketika nyamuk mengigit, dia menyebarkan parasit ke darah yang akan menyebar dan berkembang dalam beberapa hari. Penderita akan gemetar, menggigil, seluruh tubuhnya terasa sakit dan  lemas. Jika tidak segera ditangani, gejala tersebut diikuti oleh koma dan kematian.
 
9. TBC
TBC menyebar ketika penderita batuk atau bersin. Cipratan liur yang keluar dari batuk atau bersin tersebut jika terhirup orang yang sehat, akan langsung tertular penyakit tersebut. Salah satu gejalanya adalah batuk yang melebihi 2 minggu. Penderita juga batuk darah, merasa lelah dan tidak mau makan.
 
10. HIV / AIDS
HIV adalah virus yang menyebabkan penyakit AIDS. Keduanya tak membunuh manusia, namun melemahkan system pertahanan tubuh manusia dengan cara menyerang sel T. Sel T ini bagian dari darah yang memerangi penyakit. Ketika sel T lemah, seseorang akan mudah sakit.  Kasus AIDS pertama kali muncul tahun 1981. Setelah itu 20 juta manusia meninggal karenanya. Belum ada obat untuk HIV atau AIDS.
Itulah Informasi mengenai WoW 10 Penyakit Paling Mematikan Di Dunia Semoga Bermanfaat

Rabu, 13 Februari 2013

KETAPANG

Ketapang

Ketapang atau katapang (Terminalia catappa) adalah nama sejenis pohon tepi pantai yang rindang. Lekas tumbuh dan membentuk tajuk indah bertingkat-tingkat, ketapang kerap dijadikan pohon peneduh di taman-taman dan tepi jalan. Selain nama ketapang dengan pelbagai variasi dialeknya (misalnya Bat.: hatapang; Nias: katafa; Mink.: katapiĕng; Teupah: lahapang; Tim.: ketapas; Bug.: atapang; dll.), pohon ini juga memiliki banyak sebutan seperti talisei, tarisei, salrisé (Sulut); tiliso, tiliho, ngusu (Maluku Utara); sarisa, sirisa, sirisal, sarisalo (Mal.); lisa (Rote); kalis, kris (Papua Barat); dan sebagainya.

Dalam bahasa Inggris tumbuhan ini dikenal dengan nama-nama Bengal almond, Indian almond, Malabar almond, Singapore almond, Tropical almond, Sea almond, Beach almond, Talisay tree, Umbrella tree, dan lain-lain.
Ketapang, Terminalia catappamenurut F.M. Blanco, Flora de Filipinas
Ketapang, Terminalia catappa
menurut F.M. Blanco, Flora de Filipinas
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Myrtales
Famili: Combretaceae
Genus: Terminalia
Spesies: T. catappa
Nama binomial
Terminalia catappa
L.
Sinonim
Terminalia moluccana Lamk.
Terminalia procera Roxb.
Terminalia latifolia Blanco, non Swartz

Pemerian botanis

Pohon besar, tingginya mencapai 40 m dan gemang batang sampai 1,5 m. Bertajuk rindang dengan cabang-cabang yang tumbuh mendatar dan bertingkat-tingkat; pohon yang muda sering nampak seperti pagoda. Pohon-pohon yang tua dan besar acap kali berbanir (akar papan), tingginya bisa hingga 3 m.

Daun-daun tersebar, sebagian besarnya berjejalan di ujung ranting, bertangkai pendek atau hampir duduk. Helaian daun bundar telur terbalik, 8–25(–38) x 5–14(–19) cm, dengan ujung lebar dengan runcingan dan pangkal yang menyempit perlahan, helaian di pangkal bentuk jantung, pangkal dengan kelenjar di kiri-kanan ibu tulang daun di sisi bawah. Helaian serupa kulit, licin di atas, berambut halus di sisi bawah; kemerahan jika akan rontok.


Bunga-bunga berukuran kecil, terkumpul dalam bulir dekat ujung ranting, panjang 8–25 cm, hijau kuning. Bunga tak bermahkota, dengan kelopak bertaju-5, bentuk piring atau lonceng, 4–8 mm, putih atau krem. Benang sari dalam 2 lingkaran, tersusun lima-lima. Buah batu bulat telur gepeng, bersegi atau bersayap sempit, 2,5–7 x 4–5,5 cm, hijau-kuning-merah, atau ungu kemerahan jika masak.

Penyebaran dan ekologi



Ketapang merupakan tumbuhan asli Asia Tenggara dan umum ditemukan di wilayah ini, kecuali di Sumatra dan Kalimantan yang agak jarang didapati di alam. Pohon ini biasa ditanam di Australia bagian utara dan Polinesia; demikian pula di India, Pakistan, Madagaskar, Afrika Timur dan Afrika Barat, Amerika Tengah, serta Amerika Selatan.

Pohon ini cocok dengan iklim pesisir dan dataran rendah hingga ketinggian sekitar 400 m dpl.; curah hujan antara 1.000–3.500 mm pertahun, dan bulan kering hingga 6 bulan. Ketapang menggugurkan daun hingga dua kali setahun, sehingga tumbuhan ini bisa tahan menghadapi bulan-bulan yang kering. Buahnya yang memiliki lapisan gabus dapat terapung-apung di air sungai dan laut hingga berbulan-bulan, sebelum tumbuh di tempat yang cocok. Buahnya juga disebarkan oleh kelelawar.

Manfaat



Pepagannya dan daun-daunnya dimanfaatkan orang untuk menyamak kulit, sebagai bahan pewarna hitam, dan juga untuk membuat tinta. Pepagan menghasilkan zat pewarna kuning kecoklatan sampai warna zaitun, dan mengandung 11–23% tanin; sementara daun-daunnya mengandung 12 macam tanin yang dapat dihidrolisis. Dalam pada itu populer keyakinan di kalangan penggemar ikan hias bahwa menaruh daun-daun ketapang kering di akuarium, khususnya ikan cupang (Betta spp.), dapat memperbaiki kesehatan dan memperpanjang umur ikan.

Kayu terasnya merah bata pucat hingga kecoklat-coklatan, ringan sampai sedang, BIJI-nya berkisar antara 0,465–0,675; cukup keras dan ulet, namun tidak begitu awet. Kayu ini dalam perdagangan dikenal sebagai red-brown terminalia, dan digunakan sebagai penutup lantai atau venir. Di Indonesia, kayu ini digunakan dalam pembuatan perahu dan juga untuk ramuan rumah .

Biji ketapang dapat dimakan mentah atau dimasak, konon lebih enak dari biji kenari, dan digunakan sebagai pengganti biji amandel (almond) dalam kue-kue. Inti bijinya yang kering jemur menghasilkan minyak berwarna kuning hingga setengah dari bobot semula. Minyak ini mengandung asam-asam lemak seperti asam palmitat (55,5%), asam oleat (23,3%), asam linoleat, asam stearat dan asam miristat. Biji kering ini juga mengandung protein (25%), gula (16%), serta berbagai macam asam amino.

Jenis yang berkerabat



Nama ketapang juga digunakan untuk menyebut T. gigantea V.Sl., yang tumbuh di tempat berpaya-paya di Simeulue bagian selatan. Kerabat dekatnya yang mirip ketapang, di antaranya:
  • T. littorea, memiliki bulir bunga yang lebih pendek dan begitu juga buahnya (kecil, < 2,5 cm).
  • T. glabrata, memiliki tangkai daun yang panjang (1,5–2,5 cm), pangkal helaian daun tidak berbentuk jantung, dan buah yang relatif lebih kecil dan menyegi.
Jenis lain, T. bellirica Roxb. yang dikenal sebagai jaha atau joho lawe (Jw.) menghasilkan buah yang digunakan sebagai bahan jamu, bahan penyamak dan bahan pewarna.

Duku

Duku

Duku adalah nama umum dari sejenis buah-buahan anggota suku Meliaceae. Tanaman yang berasal dari Asia Tenggara sebelah barat ini dikenal pula dengan nama-nama yang lain seperti langsat, kokosan, pisitan, celoring dan lain-lain dengan pelbagai variasinya. Nama-nama yang beraneka ragam ini sekaligus menunjukkan adanya aneka kultivar yang tercermin dari bentuk buah dan pohon yang berbeda-beda.
Duku adalah tumbuhan identitas untuk Provinsi Sumatera Selatan.

Pohon yang berukuran sedang, dengan tinggi mencapai 30 m dan gemang hingga 75 cm. Batang biasanya beralur-alur dalam tak teratur, dengan banir (akar papan) yang pipih menonjol di atas tanah. Pepagan (kulit kayu) berwarna kelabu berbintik-bintik gelap dan jingga, mengandung getah kental berwarna susu yang lengket (resin)

Daun majemuk menyirip ganjil, gundul atau berbulu halus, dengan 6–9 anak daun yang tersusun berseling, anak daun jorong (eliptis) sampai lonjong, 9-21 cm × 5-10 cm, mengkilap di sisi atas, seperti jangat, dengan pangkal runcing dan ujung meluncip (meruncing) pendek, anak daun bertangkai 5–12 mm.

Bunga terletak dalam tandan yang muncul pada batang atau cabang yang besar, menggantung, sendiri atau dalam berkas 2–5 tandan atau lebih, kerap bercabang pada pangkalnya, 10–30 cm panjangnya, berambut. Bunga-bunga berukuran kecil, duduk atau bertangkai pendek, menyendiri, berkelamin dua. Kelopak berbentuk cawan bercuping-5, berdaging, kuning kehijauan. Mahkota bundar telur, tegak, berdaging, 2-3 mm × 4-5 mm, putih hingga kuning pucat. Benang sari satu berkas, tabungnya mencapai 2 mm, kepala-kepala sari dalam satu lingkaran. Putiknya tebal dan pendek.

Buah buni yang berbentuk jorong, bulat atau bulat memanjang, 2-4(-7) cm × 1,5-5 cm, dengan bulu halus kekuning-kuningan dan daun kelopak yang tidak rontok. Kulit (dinding) buah tipis hingga tebal (kira-kira 6 mm). Berbiji 1–3, pipih, hijau, berasa pahit; biji terbungkus oleh salut biji (arilus) yang putih bening dan tebal, berair, manis hingga masam. Kultivar-kultivar yang unggul memiliki biji yang kecil atau tidak berkembang (rudimenter), namun arilusnya tumbuh baik dan tebal, manis.

Perbanyakan duku yang dilakukan menggunakan biji mengakibatkan lambannya tanaman dalam menghasilkan buah. Tanaman baru berbunga pada umur 10 sampai 15 tahun. Perkecambahan tumbuhan ini memiliki perilaku poliembrioni (satu biji menghasilkan banyak embrio atau semai): satu embrio hasil pembuahan, dan sisanya embrio apomiktik. Embrio apomiktik berkembang dari jaringan pohon induk sehingga keturunannya memiliki karakter yang serupa dengan induknya. Biji bersifat rekalsitran, penyimpanan lebih daripada tujuh hari akan menyebabkan kemunduran daya kecambah yang cepat.

Perbanyakan vegetatif dilakukan dengan pencangkokan dan sambung pucuk

 

Keanekaragaman

Duku amat bervariasi dalam sifat-sifat pohon dan buahnya; sehingga ada pula ahli yang memisah-misahkannya ke dalam jenis-jenis (spesies) yang berlainan. Pada garis besarnya, ada dua kelompok besar buah ini, yakni yang dikenal sebagai duku, dan yang dinamakan langsat. Kemudian ada kelompok campuran antara keduanya yang disebut duku-langsat, serta kelompok terakhir yang di Indonesia dikenal sebagai kokosan.

Kelompok yang dikenal sebagai duku (L. domesticum var. duku) umumnya memiliki pohon yang bertajuk besar, padat oleh dedaunan yang berwarna hijau cerah, dengan tandan yang relatif pendek dan berisi sedikit buah. Butiran buahnya besar, cenderung bulat, berkulit agak tebal namun cenderung tidak bergetah bila masak, umumnya berbiji kecil dan berdaging tebal, manis atau masam, dan berbau harum. 

Langsat (L. domesticum var. domesticum) kebanyakan memiliki pohon yang lebih kurus, berdaun kurang lebat yang berwarna hijau tua, dengan percabangan tegak. Tandan buahnya panjang, padat berisi 15–25 butir buah yang berbentuk bulat telur dan besar-besar. Buah langsat berkulit tipis dan selalu bergetah (putih) sekalipun telah masak. Daging buahnya banyak berair, rasanya masam manis dan menyegarkan.Tak seperti duku, langsat bukanlah buah yang bisa bertahan lama setelah dipetik. Dalam tiga hari setelah dipetik, kulit langsat akan menghitam sekalipun itu tidak merusak rasa manisnya. Hanya saja tampilannya menjadi tidak menarik.

Kokosan (L. domesticum var. aquaeum) dibedakan oleh daunnya yang berbulu, tandannya yang penuh butir buah yang berjejalan sangat rapat, dan kulit buahnya yang berwarna kuning tua. Butir-butir buahnya umumnya kecil, berkulit tipis dan sedikit bergetah, namun sukar dikupas. Sehingga buah dimakan dengan cara digigit dan disedot cairan dan bijinya (maka disebut kokosan), atau dipijit agar kulitnya pecah dan keluar bijinya (maka dinamai pisitan, pijetan, bijitan). Berbiji relatif besar dan berdaging tipis, kokosan umumnya berasa masam sampai masam sekali.

Kultivar duku yang paling terkenal di Indonesia adalah duku palembang, terutama karena manis rasanya dan sedikit bijinya. Sebetulnya penghasil utama duku ini bukanlah Kota Palembang, melainkan daerah Komering (Kabupaten OKU dan OKI) serta beberapa wilayah lain yang berdekatan di Sumatera Selatan. Tempat lain yang juga menghasilkannya adalah kawasan Kumpeh, Muaro Jambi, Jambi. Duku dari wilayah-wilayah ini dipasarkan ke pelbagai daerah di Sumatera dan Jawa, dan bahkan diekspor.

Di samping duku palembang, berbagai daerah juga menghasilkan dukunya masing-masing. Di Jawa, beberapa yang terkenal secara lokal adalah duku condet (dahulu juga duku menteng dan duku depok) dari seputaran Jakarta; duku papongan dari Tegal; duku kalikajar dari Purbalingga; duku karangkajen dan duku klaten dari Yogyakarta; duku matesih dari Karanganyar; duku woro dari Rembang; duku sumber dari Kudus, dan lain-lain. Di Kalimantan Selatan, dikenal duku Padang Batung dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Mengingat daya tahan buahnya yang tak seperti duku, langsat umumnya dikenal secara lebih terbatas dan lokal. Beberapa kultivar yang populer, di antaranya adalah langsep singosari dari Malang, langsat tanjung dari Kalsel, langsat punggur dari Kalbar, dan sebagainya. Dari Thailand dikenal langsat uttaradit, dan dari Luzon, Filipina, dikenal langsat paete.

 

Manfaat

Duku terutama ditanam untuk buahnya, yang biasa dimakan dalam keadaan segar. Ada pula yang mengawetkannya dalam sirup dan dibotolkan. Kayunya keras, padat, berat dan awet, sehingga kerap digunakan sebagai bahan perkakas dan konstruksi rumah di desa, terutama kayu pisitan.

Beberapa bagian tanaman digunakan sebagai bahan obat tradisional. Biji duku yang pahit rasanya, ditumbuk dan dicampur air untuk obat cacing dan juga obat demam. Kulit kayunya dimanfaatkan sebagai obat disentri dan malaria; sementara tepung kulit kayu ini dijadikan tapal untuk mengobati gigitan kalajengking. Kulit buahnya juga digunakan sebagai obat diare; dan kulit buah yang dikeringkan, di Filipina biasa dibakar sebagai pengusir nyamuk. Kulit buah langsat terutama, dikeringkan dan diolah untuk dicampurkan dalam setanggi atau dupa.

Ekologi

Sebagai tanaman bertajuk menengah, duku tumbuh baik dalam kebun-kebun campuran (wanatani). Tanaman ini, terutama varietas duku, menyukai tempat-tempat yang ternaung dan lembap. Di daerah-daerah produksinya, duku biasa ditanam bercampur dengan durian, petai, jengkol, serta aneka tanaman buah dan kayu-kayuan lainnya, meski umumnya duku yang mendominasi.

Duku biasa ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl., di wilayah dengan curah hujan antara 1.500-2.500 mm per tahun. Tanaman ini dapat tumbuh dan berbuah baik pada berbagai jenis tanah, terutama tipe tanah latosol, podsolik kuning, dan aluvial. Duku menyenangi tanah bertekstur sedang dan berdrainase baik, kaya bahan organik dan sedikit asam, namun dengan ketersediaan air tanah yang cukup. Sementara itu varietas langsat lebih tahan terhadap perubahan musim, dan dapat menenggang musim kemarau asalkan cukup ternaungi dan mendapatkan air. Duku tidak tahan penggenangan.

Duku umumnya berbuah sekali dalam setahun, sehingga dikenal adanya musim buah duku. Musim ini dapat berlainan antar daerah, namun umumnya terjadi di sekitar awal musim hujan.

 

Perbanyakan

Duku biasanya diperbanyak dengan biji, yang sengaja disemaikan atau dengan mengumpulkan cabutan semai yang tumbuh spontan di bawah pohon induknya. Akan tetapi menunggu hingga pohon baru ini menghasilkan, memakan waktu yang lama (20–25 tahun) dan belum pasti pula kualitasnya sama dengan induknya.

Cara lain yang juga populer adalah dengan mencangkoknya. Meskipun proses mencangkok ini memakan waktu yang relatif lama (8-9 bulan, akar keluar setelah 134 hari) namun pohon baru hasil cangkokan sudah dapat berbuah pada umur sekitar dua tahun. Kelemahannya, persen kematian anakan hasil cangkokan cukup besar. Lagi pula pertumbuhannya tidak seberapa kuat.

Perbanyakan secara modern yang kini banyak dilakukan adalah dengan sambung pucuk (grafting). Teknik ini memungkinkan sifat-sifat genetik batang atas anakan yang dihasilkan sama dengan induknya, sementara waktu tunggunya dipersingkat menjadi 5–6 tahun. Anakan hasil sambung pucuk ini juga lebih kuat perakarannya daripada anakan hasil cangkokan.